Jumat, 27 Mei 2011

PENGURASAN KOLAM C_27.Mei 2011

Menindak lanjuti kondisi kolam pembibitan C (3.5x6.00 m2) yang terlihat makin banyak yang mati (ribuan), maka diedarkan sms keadaan darurat kesemua pengurus untuk mengatasi keadaan tersebut. Jumat siang berkumpul di JMC 5 pengurus dan konsultan, dalam evaluasi tersebut ditemukan temuan beberapa hal yang mungkin sekali sebagai penyebab kegagalan ini antara lain :

1. Kolam pada siang hari terlalu bayak memperoleh sinar matahari, sehingga tumbuh terlalu banyak lumut di kolam ini, sementara antisipasinya kurang cepat dan tepat. Hal ini mengakibatkan air jadi keruh.
2. Penambahan aerasi yang kurang pas terutama pada ukuran, ini berakibat kotoran menjadi bercampur, tidak mengendap sehingga berkibat semakin keruh. Juga karena kuatnya aerasi maka terjadi arus putar dalam kolam, dimana pada sisi utara barat terjadi putaran air yang terlalu besar bercapur kotoran, pada derah ini ditemukan banyak sekali bibit yang mati.
3. Ada dugaan juga bahwa pemberian makan yang berupa cacing sutra, kurang memenuhi syarat dalam jumlah dan jarak waktunya. Disamping itu air yang keruh mungkin juga sebagai penyebab bibit yang masih kecil itu tidak bernafsu untuk makan. Meskipun banyak terlihat bibit yang tumbuh luar biasa, namun dapat dipastikan bibit itu besar karena mamakan bibit lain yang kecil.

Maka pada sore itu diputuskan kolam dikuras, bibit yang sedanya masih bisa diselamatkan ditampung dikolam B 2.50x2.50 m2, sementara +3000 ikan yang sudah ukuran 5/7 lebih yang ada dikolam B ini dijual kepada anggota.   Dalam pengurasan kolam C ini sudah diduga akan mengalami kesulitan dalam memisahkan bibit yang bercapur kotoran dan lumut ini.Oleh karena diwal dicoba pengambilan kotoran itu dengan menggunakan pompa  ATNAN AT105, berkekuatan dorong 3m dengan menambah filter didepannya. Percobaan ini gagal karena ternyata daya hisap pompa nya masih kurang kuat untuk menyedot kotoran dan lumut yang sedemikian banyak. Ketika filter dilepas, hisapan cukup kuat tetapi tidak lama pompa macet, air tidak bisa keluar....  

Langkah terakhir yang diambil adalah cara yang paling pahit dan beresiko, ialah dikuras secara konvesnsional. Air dibuang sambil disaring melalui lubang kuras, semantara dari kolam air juga di ambil dengan ember untuk disaring.  Pada awalnya air masih jernih dan bibit bisa dipisahkan, tetapi pada akhir pengurasan air sangat kotor sehingga untuk memisahkan  bibit dengan lumut sangat sulit karena campur. Oleh karenanya pemisahan dilakukan ddengan mengocori  ember air kurasan tersebut dengan air bersih terus menerus. saperti yang telah diperkirakan diatas, maka banyak terdapat bibit yang mati.
Demikian dilakukan pengurasan kolam C yang sampai waktu maghrib tiba baru dapat diselesaikan dan diperkirakan bibit yang bisa diselamatkan kurang dari 5000. Suatu pengalaman pahit bagi JMC, namun menjadi pembelajaran yang sangat menarik untuk difahami dan direnungkan agar  TIDAK AKAN TERULANG  LAGI...!

catatan akhir:
Pada pemijahan kedua ini rekan-rekan nampaknya JMC kurang manyadari adanya perubahan iklim pada waktu-waktu terakhir, dimana hujan sudah sangat berkurang. Berbeda  dengan saat pemijahan pertama dimana hujan hampir setiap hatri terjadi. Kebijakan untuk membuka dan menutup atap kolam dilakukan seperta aituran saat pemijahan pertama, sehingga setiap siang, kolam mendapat matahari yang sangat banyak. Hal ini berakibat pertumbuhan lumut yang sangat besar. Untuk pembesaran hal ini tidak bermasalah karena lele ukran diatas 5/7 sudah mau makan lumut, tetapi untuk bibit , lumut ini bisa menjadi bencana.

Rabu, 25 Mei 2011

PEMASANGAN AERATOR KOLAM

Meski hasil telor dan penetasannya berhasil, tetapi nasib bibit hasil pemijahan kedua ini kurang begitu baik, hal ini karena terlalu banyak lumut yang tumbuh dikolam akibat terlalu banyak sinar yangmasuk kekolam. Atas arahan p.Ink, pembukaan terpal penutup kolam dikurangi 1/3 saja. Meski demikian lumut sudah terlalu banyak sehingga warna air nampak keruh ke hitam2 an. Memang lumut baik untuk makanan ikan tetapi untuk bibit yang baru berusia 1 minggu, belum cukup kuat untuk memakan rumput yang begitu banyak.
Kekhawatiran ini membuat p.Dahrin memasang aerator agar suply oksigeen bisa lebih banyak, dan sementara kiciran air dihentikan, untuk menghemat air. Airator ini memompa udara melalui slang dan 2 batang pipa pvc listrik sepanjang 4 meter, yang diberi +  25 lubang2 kecil tiap batangnya.p.Dahrin menjalankan ini karena baru saja bersama mas Totok melihat di kolam pembibitan yang ada di kolam p.Banardi Kretek. Disana kolam diaerasi dan tidak di beri kiciran air. Meskipun menurut p.Ink ini kurang baik tetapi tetap akan dicoba, karena ada referensi yang berhasil.
24 Mei  setelah 2-3 hari diaerasi, terlihat banyak bibit yang mabuk dan mati. kurang jelas penyebabnya, tetapi ada bebepa kemungkinan kesalahan terjadi :1. apakah telat memberi makan cacing,2. karena airnya kotor 3.ada hal lain yang belum diketahui. Maka dilakukan penggantian air melalui sirkulasi. Air kolam dikeluarkan dengan pompa , sementara pengisian air segar terus dilakukan. Untuk memompa air ini digunakan pompa listrik dalam air berkekuatan 50-60watt.
Kurang lebih 2 jam dilakukan penggantian air secara sirkulasi ini, air kelihatan sudah bersih. Bibit yang tadinya tidak kelihatan kini menjadi jelas terlihat. Nampak jumlahnya masih cukup banyak, dan sebagian ada yang sudah mencapai 2 cm. Sambil diberi tambahan makanan cacing, ratusan bibit yang mati di ambil, agar tidak mengotori kolam. Agar air lebih segar kiciran air terus diberikan.

Selasa, 17 Mei 2011

MELIHAT PANEN LELE KELOMPOK MINASARI_17 Mei2011

Menjelang waktu Asar  saya di telpon pak Ink, bahwa sore itu Kelompok MINASARI,  akan melakukan panen lele konsumsinya. Segera saya mengajak pak Marno untuk datang sebagai penambah pengalaman. Kolam Minasari terletak + 50m  di selatan kantor kecamatan UH, masuk gang kebarat 15 m. 
Mobil pngangkut hasil penen
P. Ing dan P.Hasan mengawasi  Panen 
Tempat itu segera kami kenali karana dijalan besar telah parkir pickup yang dibelakanggya berisi drigen-drigen plastik biru untuk tempat hasil panen. Minasari ini juga merupakan salah satu kelompok budidya lele kota binaan pak Ink, sehingga beliau perlu memantau panenan kali ini. Masuk kegang sebelah kanan terlihat dua kolam dari pasangan batako yang salah satunya ditutup terpal, ini menunjukkan  bahwa itu kolam untuk pemijahan. . Ditempat itu pak Ink memperkenalkan kami dengan pak Hasan, seorang pedagang lele yang bonafide, pak Gading , ketua kelompok MINASARI.
Kolam habis dipanen
Lebih kedalam terdapat 4 kolam lele masing-masing ukuran 3x6 ; 3x4 ; 2x4 dan 1.5x4. Terlihat kolam yang terbesar telah kosong sudah dikuras, sedang pada kolam kedua terlihat dua orang sedang menagambil lele dengan serok jaring ukuran  30x40cm. Beda dengan biasanya untuk serok panen ini di bagian belakang/bawah  jaring diikat dengan tali, agar lebih mudah untuk mengeluarkan ikan dari jaring..Saat itu kolam kedua masih menyisakan separoh hasil lelenya. Dengan sigap dan trampil pak Gading ditemani seorang rekannya menjaring lele hasil panen itu.
Dari kolam itu lele dijaring untuk dimasukkan dalam keranjang plastik 40x60 cm . setelah penuh keranjang itu di diangkut dengan kegerobak kecil, dibawa ke pickup yang berada dijalan, untuk dimasukkan ke bak2 plastik yang sudah diisi  air.  Menurut pengakuan pak Hasan, hari itu Minasari berhasil memanen lebih kurang 5,5 kuintal lele. Bisa kita hitung kalau hatrga lele itu Rp 11.000,-/kg maka uang yang masuk ke MinaSari ini sudah 5,5 juta rupiah.

SOTIR KETIGA_16 MEI 2011

Sortir ketiga sudah dirasa perlu karena telah terlihat ratusan bibil yang tumbuh lebih cepat dibanding yang lain. Keadaan ini harus cepat disadari sebelum kanibal terjadi  dalam jumlah yang besar. Adaikata seratul bibit unggul ini sehari mamakan 3 rete (istilah bibit yang kurang dari 1cm) 2 kali sehari, maka dapat dihitung dalam se hari kita kehilangan 3x2x100 ekor =600 ekor per hari. 
Oleh karenanya Senin pagi  itu beberpa rekan dihubungi untuk bersama melakukan pensortiran ketiga. Sampai siang dapat dipisahkan 182 ekor bibit ukuran 4/6, dan dimasukkan kolam JMC3 yang berkuran 2.5x2.5 m2, siap dijual pada anggota.Sedang dari anggota yag telah mendaftar akan mengambil ialah bapakTriyono, yang saat itu sedang menyipkan kolamnya yang berukuran 1x3m2. Kolam ini sebelumnya dipakai untuk  pemeliharaan ikan hias, namun dengan adanya "lelenisasi" di kampung Janturan beliau memilih berganti pembesaran lele. Sementara itu bapak Dono yang beberapa waktu lalu di"tembung"  JMC untuk menggunakan sisa halaman rumah yang belum dimanfaatkan bisa digunakan untuk kolam lele, menghubungi kami dan menyampaikan bahwa tempatnya sudah siap untuk dibuat kolam terpal. 

SOTIR KETIGA_16 MEI 2011

Bibit hasil pemijahan perdana setelah dua kali dilakukam sortir kini telah nampak bertambah beasar. Namun secara alami pertumbuhan bibit ini tidak seragam. Beberapa ekor nampak tumbuh lebit cepat dari yang lain. Repotnya diantara bibit yang tinggal itu masih ada ratusan yang kecil ukuran 1/2, sehingga peristiwa kanibal sangat besar akan terdjadi lagi. Jika ada 100 lele dominant besar memakan 3 lele kecil dalam kolam, Oleh karenanya  pagi tanggal 16 Mei 2011, di kolam JMC diadakankerja hakti di  kolam JMC untuk mensortir lele untuk yang keiga kalinya.

Senin, 16 Mei 2011

SOTIR KETIGA_16 MEI 2011

Kolam Bibit K1JMC, yang berisi puluhan ribu bibit ini terlihat sudah banyak yang mencapai ukuran 4/5/6, sehingga sudah menghawatirkan untuk terjadi kanibal. Jika ada 100 lele saja makan lele kecil sehari tiga ekor maka dalam sehari saja bisa diperkirakan 300 ekor bibit ini hilang.
Oleh karenanya pada hari Senin 16 Mei  2011, pagi hari beberapa teman berkumpul untuk melakukan pesortiran lagi. Sampai pukul 11 hari itu dapat dipisahkan 180 ekor ukuran 4/5/6 , dan dimasukan di kolam K2JMC siap dijual ke anggota yang memerlukan. Sementara ini yang telah siap menerima pembesaran adalah kolamnya pak Tiyono (ketua RT16), yang mempuyai kolam kecil sekitar 1.2x3 m2, yang diperkirakan dapat menerima kurang lebih 600 ekor.
Hari itu selain mensortir juga dilakukan pengurangan air kolam pembibitan yang tadinya sampai 40cm dijadikan kedalaman sekitar 20-30cn

Rabu, 11 Mei 2011

5 HARI SETELAH PEMIJAHAN KE2

Limahari setelah pemijahan kedua, telor yang menetas semakin banyak. Karena diperkirakan telah semuanya menetas, maka ijuk diangkat dan disimpan. Terlihat hasil penetasan berupa ribuan bintik2 sebesar semut kecil bergerak cepat didasar dan didinding kolam. Mulai hari keempat dikolam pemijahan ini disebarkan makanan nerupa cacing sutra sebanyak 5 kg. Diperkirakan cukup untuk seminggu. Air kolam masih terlihat jernih, agar tetap sehat pancaran air terus dihidupkan. Untuk kolam 3.5 x 6 m2 ini dipasang empat pancuran.  Hari itu dipantau temperatur air menunjukkan 29 derajat. cukup baik.